Dari Nu’man bin Basyir r
adhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَثَلُ
الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادِهِمْ وَ تَرَا حُمِهِمْ وَ تَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ
الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ
بِالسَّعَمِرِ وَ الحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang
beriman dalam cinta, kasih sayang, dan kelembutan mereka layaknya tubuh. Bila
satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuhnya turut merasakan susah tidur dan
demam.” (HR. Muslim).
Berempatilah pada
orang lain dalam kebajikan dan amal shalih merupakan jalannya orang-orang
shalih. Bahkan, indikasi kebenaran iman sebagai perwujudan kecintaan pada
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang mudah berempati serta
memiliki sifat empati yang tinggi akan disukai orang lain.
Dia peka pada
keadaan atau penderitaan orang lain yang direfleksikan dengan ucapan,
perbuatan, ataupun doa. Hal itu merupakan karakter orang yang hatinya diberi
kelembutan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia senantiasa memenuhi
kebutuhan orang lain, hatinya lapang, dan bersegera memulai kebaikan.
Dia senantiasa
memberikan manfaat terhadap orang lain yang berada disekitarnya tanpa pamrih
sedikitpun. Sebab ia mengetahui bahwasannya segala sesuatu yang ia lakukan
tanpa dasar keikhlasan hanya akan mendatangkan hal tidak memiliki nilai apapun
atau dengan kata lain sia-sia.
Dia hanya
menyandarkan segala urusannya kepada Allah Swt. Sebab ia percaya terhadap janji
Allah dan Rasul bahwasannya sebaik-baik manusia adalah ia yang memiliki kebermanfaatan
bagi yang lainnya.
Sikap empati perlu
diasah agar hati menjadi lembut dan seakan-akan turut meringankan kebutuhan
orang lain. Para salaf dahulu saling berlomba-lomba melakukan kebaikan karena
mereka memahami ada banyak barakah, pahala, dan kebaikan yang dijanjikan
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berempati merupakan ibadah yang lebih
didominasi kecintaan pada akhirat.
Empati dapat
diwujudkan dengan berbagai cara, dari mulai dengan menggunakan harta,
kehormatan, fisik, bantuan, nasehat dan petunjuk sampai berdo’a. istighfar dan
turut merasakan duka mereka pun termasuk kedalam empati. Sebab itu kesempatan
kita untuk berempati tidak terbatas, kita bisa mengerahkan segala kemampuan
kita untuk membantu saudara-saudara kita.
Tingkat empati dalam
diri kita sesuai dengan taraf keimanan kita. bila iman lemah, maka empatipun
juga lemah. Begitupun sebaliknya bila iman kuat maka empatipun menjadi kuat. Sebab
itu, empati juga bisa menjadi cermin keimanan yang ada dalam diri seseorang. Semoga
kita semua tergolong orang yang senantiasa berempati.
Berempati pada
orang lain adalah sebuah nikmat karena diberi taufik Allah untuk mengikuti
jejak sabiquna fil khairat (orang-orang yang bersegera dalam
melakukan kebaikan). Ukhuwah imaniyah menjadi lebih kuat dan ia akan merasakan
kebahagiaan tersendiri ketika bisa memberikan yang dibutuhkan orang lain.
Berhias dengan
empati adalah wujud kepekaan hati seorang mukmin yang akan mendatangkan
kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan di mata orang lain ia
akan mampu menarik empati ketika semua itu dilandasi ikhlas.